Percakapan

Percakapan

Aku tak pernah tau, apa yang ada dipikiran mu. Membuat hp ku berdering, lalu mengobrol selama beberapa jam. Sampai dini hari, tidak banyak obrolan dari ku. Hanya tawa yang ada memenuhi telpon itu

Aku tak tau bagaimana cara berekspresi yang baik. Tapi kamu tau, kan. Bahwa kamu mampu membuat ku tertawa berkali-kali

Terima kasih, semoga kau tak terganggu.

Advertisements
Kira

Kira

Perempuan yang mungkin masih kau sukai, yang sudah menutup akun. Pasti masih kau do’a kan, bukan?

Sedang aku disini berdoa untuk mu. Tak pernah berharap apapun. Kerap kali terlalu senang bila senyum mu masih sama.

Terima kasih, sudah hampir setahun lulus. Tidak ada yang berubah

Dulu, sebelum kita lulus. Aku selalu takut semua berubah, takut kau tak mau dihubungi, takut dilupakan.

Mungkin, yamg mendekati mu banyak. Dan memang yang mendekati ku juga banyak. Kau terlalu menawan untuk aku yang biasa saja.

Tapi, percayalah. Tak pernah bisa seleluasa itu. Semoga tak ada yang bisa membuat mu nyaman. Tidak ada yang bisa mengganti posisi ku.

Maaf, doa ini jahat. Ah sudah. Aku mundur saja

Kamu, jangan berubah ya:)

Desember Lalu

Desember Lalu

Yang kau jalani, memang seperti ini. Kau masih seperti Desember tahun lalu. Bertukar kabar, berbagi kisah, tentu membuat gelak tawa.

Apakah kamu sudah punya pengganti nya yang dulu?

Atau hanya aku yang kau jadikan tempat bercerita walau tidak jelas ini?

Entah.

Kisah Cinta Satu Lelaki

Kisah Cinta Satu Lelaki

Katanya sudah berpuluh-puluh tahun menjalin hidup, sebelum akhirnya berpisah. Entah siapa yang melukai tapi dalam sekali goresan di hati lelaki ini.

Wanita nya dengan mudah menemukan pengganti.

Kasihan, tapi harus bagaimana? Sampai 2 tahun kemudian, sang wanita yang pernah menjadi ratu di hati nya mengidap kanker.

Dari matanya terpancar pedih, terlihat kantung mata nya semakin besar, mungkin kah karena menangis? Diam-diam ia menyimak yang disampaikan sang anak tentang mantan istri nya itu. Diam-diam ia memberi masukan obat mana dan langkah apa yang baik diambil.

Sampai pada akhirnya tekad bulat untuk membesuk mantan ratu di hati nya. Naas, wanita itu sudah tidak rawat inap.

Sore nya, sang anak ingin pergi ke rumah sang wanitanya dulu. Diam-diam, ia berniat mulia. Sudah 2x menitipkan uang, tak lupa berpesan

Jangan sampai ibu mu tau bahwa ini uang dari ku, nanti suami baru nya bisa marah.

Mengapa ia bisa semulia itu? Apakah ia masih mencintai? Kemana hilang benci hati nya?

Apakah perempuan itu masih menjadi ratu dihati nya?

Lekas pulih Wanita, ada yang tak berhenti mendoakan mu, yaitu mantan suami mu.

Perjumpaan Hari Selasa.

Perjumpaan Hari Selasa.

Apa kabar ia yang ku kira tak kan bertemu. Berdiam diri saat bertemu.

Aku kira, ia kan kaku. Kira ku rupanya salah. Janji itu kami penuhi, sore teduh sebagaimana kotak yang kita huni.

Diawali senyum manis, tawa renyah. Berjalan cukup jauh. Menghabiskan waktu lebih dari satu jam. Dari sore hingga malam tiba. Aku kira kita akan diam saja sembari mendengar suara langkah masing-masing. Ternyata disana, kita bercerita, sekedar berbicara diselingi banyak tawa. Di samping mu. Aku merasa kembali ke kota asal kita. Ku lepas rindu-rindu.

Cukup lama menertawakan segalanya, mulai dari cerita lucu atau hanya sekedar kebodohan. Kau kebingungan melihat ku yang tak bisa berhenti tertawa, sampai rahang pegal juga air mata keluar.

Pukul 20:00 kita berpisah. Pada malam yang tak disertai hujan. Aku lebih dulu pamit pulang dan kau menatap ku pergi. Ah, hati-hati. Ucap ku dalam hati

Selepas melambai tangan, aku tak ingin melihat mu lagi. Seakan tawa ku sudah tak bisa lagi. Berganti Sendu. Tak tau kapan bisa seperti itu lagi.

Terima kasih telah menepati janji.

Apa?

Apa?

Aku tak pernah tau, apa yang harus kau sukai dari tubuh ku ini.

Aku tak pernah tau, apa yang harus kau sayangi dari raga ini.

Kenapa kau suka, padahal aku seorang pendiam yang tak pandai bicara, seringkali gugup apalagi ketika mata mu menatap dalam mata ku.

Apa yang kau ingin? Aku tidak tau, dan kau tak berujar apapun.